Kamis, 22 Desember 2016

Pengaruh Nasionalisme Terhadap Pembangunan Karakter bangsa dan Perekonomian di Indonesia Dengan Implikasinya Dalam Perkembangan Arus Globalisasi



BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dijaman yang modern kini, Kesadaran masyarakat Indonesia untuk bersikap dan berperilaku cinta terhadap tanah air serta rela berkorban bagi bangsa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sedikit mengalami pergeseran seiring dengan fenomena arus globalisasi. Akibatnya dapat dilihat dengan situasi dan kondisi Indonesia saat ini yang masih dihadapkan pada persoalan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang hampir merambah pada sendi-sendi pemerintahan, baik itu di Legislatif dan Eksekutif termasuk KKN sekarang ini sudah masuk pada lembaga-lembaga penegak hukum lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pembangunan karakter cinta tanah air melalui pendidikan sejak dini dengan menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda sebagai sarana perbaikan moral dari tingkat dasar.
Tujuan Penyajian
Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang sudah dicetuskan para pendiri bangsa terdahulu melalui pendidikan karakter yang bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorentasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Pendidikan karakter dikatakan penting karena sebagai penyeimbang kecakapan kognitif yaitu yang berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual individu.
Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang timbul sebagai akibat memudarnya jiwa nasionalisme. Selain melalui pendidikan karakter, pembiasaan atau (habituasi) dalam kehidupan juga dapat mendukung peningkatan moral untuk memupuk jiwa nasionalisme yaitu seperti religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung jawab, dan sebagainya. Pembiasaan itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang hal-hal yang benar dan salah, akan tetapi juga mampu merasakan nilai yang baik dan tidak baik, serta bersedian melakukannya dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu di tumbuh kembangkan peserta didik yang pada akhirnya akan menjadi cerminan hidup bangsa Indonesia.
Batas Makalah
Pengertian Nasionalisme dan ruang lingkup dalam kehidupan bangsa serta faktor yang mempengaruhinya?
Pengaruh Globalisasi serta dampak positif dan negatifnya terhadap nilai nasionalisme?
Akibat arus globalisasi terhadap pada kemerosotan nasionalisme atau kemajuan bangsa?
Tinjauan Pengaruh Globalisasi secara Sosiologis dan Psikologis?
Peran dan pentingnya dunia pendidikan dalam pembangunan karakter bangsa?

BAB II. ISI
Landasan Teori
1. Pengertian Nasionalisme
Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang mendalam terhadap bangsa itu sendiri dan akan terus melekat selama bangsa Indonesia masih ada, dengan kata lain nasionalisme berarti memiliki jiwa kebangsaan serta cinta tanah air yang tinggi terhadap bangsa dan negara sendiri yang mengacu pada mengacu ke kesatuan, keseragam-an, keserasian, kemandirian dan agresivitas.
Menurut Profesor W. F. Wertheim, nasionalisme dapat dipertimbangkan sebagai suatu bagian integral dari sejarah politik, terutama apabila ditekankan pada konteks gerakan-gerakan nasionalisme pada masa pergerakan nasional. Wertheim juga menegaskan bahwa faktor-faktor seperti perubahan ekonomi, perubahan sistem status, urbanisasi, reformasi agama Islam, dinamika kebudayaan, yang semuanya terjadi dalam masa kolonial telah memberikan kontribusi perubahan reaksi pasif dari pengaruh Barat kepada reaksi aktif nasionalisme Indonesia.
Menurut Ensiklopedi Indonesia nasionalisme adalah sikap politik dan sosial dari sekelompok bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan dengan meletakkan kesetiaan yang mendalam terhadap kelompok bangsanya. Nasionalisme dapat juga diartikan sebagai paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
2. Ruang Lingkup Nasionalisme
Pada dasarnya kita hanya mengenal satu kata umum nasionalisme yaitu bentuk kesetiaan dan kecintaan serta pengabdian diri sebagai warga negara kepada negaranya dengan sepenuh hati dan menjunjung nama baiknya. Namun nasionalisme ternyata memiliki bentuk-bentuk lain dalam kehidupan berbangsa yaitu:
a. Nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil)
Nasionalisme yang terjadi dimana negara memperoleh kebenaran politik dari partisipasi aktif rakyatnya. Keanggotaan suatu bangsa bersifat sukarela. Bentuk nasionalisme dibangun pertama-tama oleh Jean-Jacques Rousseau.
b. Nasionalisme etnis atau etnonasionalisme
Nasionalisme yang terjadi dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat yang keanggotannya bersifat secara turun temurun. Contohnya Joko merupakan orang dari Jawa karena orang tua dan nenek moyangnya berasal dari suku Jawa dan menggunakan bahasa Jawa karena digunakan oleh orang tuanya dan orang-orang sebelumnya. Nasionalisme etnis terbagi menjadi:
- Nasionalisme romantik: Bentuk nasionalisme etnis di mana negara memperoleh kebenaran  
   politik sebagai suatu yang alamiah (organik) dan merupakan ekspresi dari bangsa atau ras yang
   menitikberatkan pada budaya etnis yang sesuai dengan idealisme romantik. Contohnya adalah
   cerita rakyat (folklore) “Grimm Bersaudara” yang berkaitan dengan etnis Jerman.
- Nasionalisme budaya: Nasionalisme budaya, adalah nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan tidak bersifat turun temurun misalnya warna kulit atau ras atau bahasa. Contohnya adalah rakyat cina yang menganggap negara berdasarkan budaya bersama.
c. Nasionalisme kenegaraan
Merupakan variasi nasionalisme kewarganegaraan, yang sering dikombinasikan dengan nasionalisme etnis dimana bangsa adalah suatu komunitas yang memberikan kontribusi terhadap pemeliharaan dan kekuatan negara. Contoh nasionalisme kenegaraan adalah fasisme italia yang menganut slogan Mussolini: Tutto nello stato, niente al di fuori dello stato, nulla contro lo stato (semuanya di dalam negara, tidak ada satupun yang di luar negara, tidak ada satupun yang menentang negara). Tidaklah mengherankan jika nasionalisme ini bertentangan dengan cita-cita kebebasan individual dan prinsip demokrasi liberal.
d. Nasionalisme agama
Nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Seperti semangat nasionalisme di Irlandia yang bersumber dari agama Hindu. Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis. Agama hanya merupakan simbol dan bukanlah motivasi utama.
Nasionalisme Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor, diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.   Faktor Internal
      Faktor internal yang mempengaruhi Nasionalisme Indonesia adalah:
-
Kenangan kejayaan masa lampau.
-
Perasaan senasib dan sepenanggunan akibat penderitaan dan kesengsaraan masa penjajahan.
-
Munculnya golongan cendekiawan.
-
Paham nasionalis yang berkembang dalam bidang politik, sosial ekonomi, dan kebudayaan.

b.   Faktor Eksternal
      Faktor eksternal yang mempengaruhi Nasionalisme Indonesia adalah:
-     Kemengan Jepang atas Rusia (1905)
-     Perkembangan Nasionalisme diberbagai negara
-     Munculnya paham-paham baru
3. Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai Nasionalisme
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005).
Menurut pendapat Krisna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang. internet. public jurnal. September 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia dengan teknologi informasi dan komunikasi sebagai faktor pendukung utamanya.
Pengaruh globalisasi bagi kehidupan bangsa di berbagai bidang kehidupan bangsa meliputi berbagai aspek seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain-lain akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme terhadap bangsa. Adapun pengaruh globalisasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif yaitu sebagai berikut:
a.   Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme
-
Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis.
-
Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negarasehingga dapat meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
-
Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

b.   Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai-nilai nasionalisme
-
Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa
 kemajuan dan kemakmuran.
-
Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena  banyaknya produk luar negeri yang membanjiri di Indonesia sehingga berkurangnya rasa  nasionalisme.
-
Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
-
Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi.
-
Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga.

4. Tinjauan Pengaruh Globalisasi secara Sosiologis dan Psikologis
Secara sosiologis dan psikologis, selain masyarakat luas, komunitas yang paling mudah terkena pengaruh fenomena global itu adalah kalangan generasi muda, khususnya para remaja, yang berada dalam fase kehidupan pancaroba yang labil dan fase pencarian identitas diri. Fenomena ini sesungguhnya menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Apakah globalisasi akan berakibat pada kemerosotan atau sebaliknya. Di sinilah letak penting dan sentralnya peran dunia pendidikan dalam membawa para remaja khususnya dan generasi muda pada umumnya untuk menuju ke arah perubahan sosial yang sekaligus bermakna kemajuan sosial dan kemajuan bangsa. Dalam hal ini, pendidikan menjadi penentu masa depan bangsa dan negara ke depan.
5. Pengembangan Karakter (Character Bulding) melalui Pendidikan
Erie sudewo dalam bukunya yang berjudul “Character building”, mengatakan bahwa karakter merupakan kumpulan dari tingkah laku baik dari seorang manusia. Sedangkan ketika seseorang suka melakukan hal yang tidak baik, maka ia tidak memiliki karakter, dan itu yang dinamakan tabiat.
Seperti yang dikemukakan oleh Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yodhoyono bahwa ada lima isu penting dalam dunia pendidikan. Salah satunya isu mengenai hubungan pendidikan dengan pembentukan watak atau dikenal dengan pembangunan karakter (character building) maka Presiden melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) meluncurkan Program Pendidikan Karakter untuk mendukung pembentukan, menumbuhkan nasionalisme serta penguatan karakter bangsa dengan pendidikan sebagai sarana yang dapat menyajikan informasi berupa materi yang menarik dan relevan sehingga dapat menumbuhkembangkan semangat pelajar dan mahasiswa.
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Yuhan Yang Maha Esa, berkhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari rumusan tujuan tersebut diharapkan pendidikan karakter dapat terus menerus dan berkelanjutan (continuous).
Program konkret Kemendiknas dalam membangun karakter bangsa yakni dengan menggalakkan program dan kegiatan pendidikan karakter dengan landasan nasionalisme pada seluruh satuan dan kewarganegaraan, baik kurikuler maupun ekstra. Merevitalisasi kembali kelompok mata pelajaran kepribadian agar menjadi sumber progresif, dengan memberi dan memperkuat value of character & value of orientation for the future, mengembangkan program pendidikan karakter dan aneka ragam pelatihan yang tepat dan efektif dengan memberikan orientasi nilai (value of orientation) bagi kemajuan peradaban bangsa dan negara ke depan yang didukung oleh semangat nasionalisme yang terintegrasi dengan kebutuhan kemajuan bangsa di masa depan. Sehingga dengan pendidikan karakter inilah terciptanya satu perubahan dari sekadar good menjadi great yang dibutuhkan bagi kesuksesan membangun peradaban bangsa di masa depan. Great character, great personality, and great achievement for the future dapat dijabarkan secara konkrit. Sejatinya kepribadian dan citra diri bangsa menjadi kekuatan etos, semangat etik dan moral yang diharapkan bagi kemajuan bangsa ini di masa depan.
Fakta-fakta
Nasionalisme sekarang harus dapat mengisi dan menjawab tantangan masa transisi. Tentunya nilai-nilai baru tidak akan menggoncangkan nasionalisme itu sendiri selama pendukungnya yaitu bangsa Indonesia tetap mempunyai sense of belonging, artinya memiliki nilai-nilai baru yang disepakati bersama. Nasionalisme pada hakekatnya adalah untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama, karena nasonalisme menentang segala bentuk penindasan terhadap pihak lain, baik itu orang per orang, kelompok-kelompok dalam masyarakat, maupun suatu bangsa. Nasionalisme tidak membeda-bedakan baik suku, agama, maupun ras. Oleh karena itu terdapat 4 Prinsip nasionalisme, menurut Hertz dalam bukunya Nationality in History and Policy, antara lain:
a.         Hasrat untuk mencapai kesatuan
b.         Hasrat untuk mencapai kemerdekaan
c.         Hasrat untuk mencapai keaslian
d.         Hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa.
Salah satu The founding fathers “Bung Karno’ juga sangat menekankan pentingnya pembangunan karakter bangsa (Nation and Character Building) salah satunya pembangunan karakter bangsa ala Bung Karno yaitu ajaran “Tri Sakti” Bung Karno. Untuk menjadi bangsa yang sakti dan besar, maka kita harus mengikuti tiga prinsip: mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Sebuah harga diri sebuah bangsa bisa dipandang tinggi oleh bangsa lain karena memiliki nilai pandang lebih, karena memiliki etos kerja yang bagus dan mampu berpikiran produktif. Hal tersebut juga dapat berakibat positif terhadap perkembangan perekonomian negara sehingga muncul suatu konsep yang disebut nasionalisme ekonomi.
Nasionalisme ekonomi ini timbul seiring dengan perkembangan arus globalisasi yang semakin pesat yang terintegrasi dengan strategi suatu negara dalam skala domestik maupun internasional, oleh karena itu nasionalisme ekonomi bisa disebut sebagai paham menumbuhkan kebanggaan dan cinta terhadap bangsa Indonesia, yang secara khusus dalam ekonomi ialah cinta terhadap segala hasil produksi dalam negeri yang menciptakan kemandirian ekonomi bagi bangsa Indonesia (strategi domestik) dengan tetap tidak melepaskan diri dari pergaulan internasional (strategi internasional). Peran nasionalisme Ekonomi terhadap perekonomian Indonesia dapat membantu neraca perdagangan ke arah positif dengan membantu mendorong ekspor di persaingan internasional dengan ide-ide serta gagasan-gagasan kreatif melalui pengembangan dan pembinaan dari instansi terkait sesuai isi Pasal 33 UUD 1945 yang asli ayat 1, 2 dan 3. Nasionalisme ekonomi Indonesia pada dasarnya dibangun dengan komitmen untuk mewujudkan demokrasi ekonomi atau kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi sekaligus yang berisi menentang kapitalisme.
Solusi
Penanaman jiwa nasionalisme dalam suatu bangsa didukung melalui pendidikan karakter disekolah, hal ini dikarenakan bahwa sekolah merupakan tempat pendidikan dan pembentukan jiwa serta semangat bagi generasi muda yang akan menentukan masa depan suatu bangsa. Melalui penguatan karakter bangsa yang nantinya akan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka mewujudkan NKRI yang kuat dan kokoh serta berkepribadian.
Menyeimbangkan arus globalisasi yang semakin keras terhadap nasionalisme bangsa serta perekonomian bangsa diperlukan dukungan dari instansi yang terkait untuk menumbuhkan rasa cinta yang teramat terhadap produk dalam negeri sehingga tercapai nasionalisme ekonomi salah satunya adalah dengan meningkatkan Industri Kreatif sehingga tercapai demokrasi ekonomi sesuai Pasal 33 UUD 1945 ayat 1, 2 dan 3 yaitu untuk mencapai kemakmuran rakyat dan tercapainya kemajuan perekonomian bangsa dengan memajukan ekspor dalam negeri.

BAB III. PENUTUP
Kesimpulan
Kesiapan untuk menghadapi era globalisasi ini perlu didongkrak dengan meningkatkan rasa nasionalisme lebih kepada rasa bangga dan cinta sebagai warga negara Indonesia. Jika rasa bangga dan cinta telah tumbuh, maka akan mudah bagi Indonesia untuk survive bahkan terus berkembang dan maju bersaing pada kancah persaingan internasional. Maka dalam hal ini didukung dengan mengembangkan wawasan kebangsaan yang belum terealisasi dapat melalui proses pemberdayaan civil society dalam hal ini pendidikan karakter untuk mewujudkan pemerintahan menjadi clean and good governance.
Landasan dasar pendidikan karakter adalah nasionalisme dengan memberikan orientasi nilai (value of orientation) bagi kemajuan peradaban bangsa dan negara ke depan dengan mengintegrasikan semangat nasionalisme dengan kebutuhan kemajuan bangsa di masa depan. Sehingga dengan pendidikan karakter inilah terciptanya satu perubahan dari sekadar good menjadi great yang dibutuhkan bagi kesuksesan membangun peradaban bangsa di masa depan. Great character, great personality, and great achievement for the future dapat dijabarkan secara konkrit dalam sektor perkembangan perekonomian.
Saran
Sebagai bangsa yang demokratis, seharusnya kita dapat menerapkan pendidikan karakter secara efektif dan efisien, untuk menumbuhkan dan membangkitkan kembali jiwa nasionalisme yang sudah mulai memudar akibat pengaruh globalisasi. Selain itu diperlukan dukungan dari berbagai pihak terkait dimulai dari lingkungan keluarga, sosial hingga pemerintah yang didukung dengan program-program dukungan bagi penguat nasionalisme ekonomi karena sejatinya kepribadian dan citra diri bangsa menjadi kekuatan etos, semangat etik dan moral yang diharapkan bagi kemajuan bangsa ini di masa depan khususnya semangat membantu kemajuan bangsa dalam sektor ekonomi di kancah internasional.
Daftar Pustaka
Humas Pemerintah Kabupaten Banjar, (2014). Pergeseran Nilai-Nilai Rasa Nasionalisme Kebangsaan Harus Diantisipasi. [Online]. Tersedia: http://banjarkab.go.id/pergeseran-nilai-nilai-rasa-nasionalisme-kebangsaan-harus-diantisipasi/ [28 Mei 2014]
Female, (2012). Pembangunan Karakter Bangsa. [Online]. Tersedia: http://pembangunankarakterbangsa.blogspot.co.id/p/pembangunan-karakter-bangsa.html [1 Mei 2012]
Burhanuddin, Afid, (2015). Pengertian dan Tujuan Pendidikan Karakter. [Online]. Tersedia: https://afidburhanuddin.wordpress.com/2015/01/17/pengertian-dan-tujuan-pendidikan-karakter/ [7 Januari 2015]
Zakapedia, (2015). Pengertian Nasionalisme dan Bentuk-Bentuknya. [Online]. Tersedia: http://www.artikelsiana.com/2015/05/pengertian-nasionalisme-bentuk-macam-jenis.html [Mei 2015]
Pesantren Al Muta'allimin, (2009). Nasionalisme Ekonomi melalui Industri. [Online]. Tersedia: Kreatifhttp://alpontren.com/index.php?mact=News,cntnt01,print,0&cntnt01articleid=28&cntnt01showtemplate=false&cntnt01returnid=53 [14 November 2009]
Setiyono, (2012). Menumbuhkan Rasa Nasionalisme & Pembentukan Karakter Masyarakat Bangsa. [Online]. Tersedia: http://setiyonotiyouir08.blogspot.co.id/2012/11/menumbuhkan-rasa-nasionalisme.html [12 November 2012]
Yos hua, (2013). Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Terhadap Generasi Muda Melalui Pendidikan Karakter. [Online]. Tersedia:http://yoshuabae.blogspot.co.id/2013/03/menumbuhkan-jiwa-nasionalisme-terhadap.html [10 Maret 2013]